Thursday 23 April 2015

KETIKA ISLAM BERJAYA

Ketika kita berjaya...
Surat dari Kaisar Romawi kepada Mu'awiyah: Kami mengetahui apa ‎yang terjadi antara kalian dengan Ali bin Abi Tholib, dan menurut ‎kami, kalian-lah yang lebih berhak menjadi khalifah dibanding dia ‎‎(Ali bin Abi Thalib). Kalau kamu mau, akan kami kirimkan pasukan ‎untuk membawakan kepadamu kepala Ali bin Abi Thalib.


Mu'awiyah menjawab surat tersebut: Dari Muawiyah kepada Hercules ‎‎(Hiroql): Apa urusanmu ikut campur urusan dua saudara yang sedang ‎berselisih? Kalau kamu tidak diam, akan aku kirimkan pasukan ‎kepadamu, pasukan, yang mana bagian terdepan berada di tempatmu dan yang terakhir ‎berada ditempatku ini, yang akan memenggal kepalamu dan ‎membawakannya kepadaku, dan akan aku serahkan ke Ali.‎

Ketika kita berjaya...

Khalid bin Walid mengirim surat kepada Kaisar Persia: Peluklah ‎agama Islam maka kalian akan selamat, atau akan aku kirimkan ‎kepadamu pemuda yang cinta kematian sebagaimana kalian yang ‎cinta dunia.‎ Ketika membaca surat tersebut, Kaisar menyurati Raja Cina dan ‎memohon bantuan darinya, maka Raja Cina menjawab surat tersebut: ‎Wahai Kaisar, aku tak sanggup menghadapi kaum yang andaikata ‎mereka ingin memindahkan gunung, maka akan dipindah ‎gunung tersebut.‎

Ketika kita berjaya...

Di era pemerintahan Utsmaniyyah (Othoman), ketika kapal-kapal ‎Utsmaniyyah melintasi pelabuhan Eropa, gereja-gereja berhenti ‎membunyikan lonceng mereka karena takut dengan kaum Muslimin, ‎mereka takut kota mereka ditaklukkan kaum Muslimin.‎

Ketika kita berjaya...

Dikisahkan pada zaman dahulu, seorang pendeta Italia berdiri di ‎salah satu lapangan di sebuah kota disana, dalam pidatonya ia ‎mengatakan: sangat disayangkan sekali kami melihat pemuda kaum ‎nasrani mulai meniru kaum Muslimin Arab dalam gaya berpakaian ‎mereka, gaya hidup mereka, dan cara berpikir mereka, sampai-sampai ‎bila ada yang ingin berbangga dihadapan pasangannya, ia ‎mengatakan kepada pasangannya "uhibbuki" dengan ‎menggunakan bahasa Arab, dia ingin menunjukkan kepada ‎pasangannya betapa gaulnya ia dan betapa terpelajarnya dirinya ‎karena mampu berbicara bahasa Arab.‎

Ketika kita berjaya...

Pada era pemerintahan Utsmaniyyah, di depan setiap rumah terdapat ‎dua buah palu, palu kecil dan palu besar, ketika diketuk palu yang ‎besar, semua yang di dalam rumah mengerti bahwa yang mengetuk ‎adalah seorang lelaki, maka salah seorang lelaki pula-lah yang ‎membukakan pintu. Dan ketika diketuk palu yang kecil, semua yang ‎di dalam rumah mengerti bahwa yang mengetuk adalah seorang ‎wanita, maka salah seorang wanita-lah yang membukakan pintu. Dan ‎ketika di dalam rumah ada yang sakit, digantung bunga merah, yang ‎dengan itu para tamu mengetahui kalau di dalamnya terdapat orang ‎sakit dan dengan itu tidak menimbulkan suara yang mengganggu ‎orang sakit tersebut.‎

Ketika kita berjaya...

Pada malam peperangan Haththin, di mana ketika itu kaum Muslimin ‎merebut kembali Baitul Maqdis dan mengalahkan kaum salibis, ‎komandan perang Sholahuddin Al-Ayyubi berpatroli memeriksa ‎kondisi kemah pasukannya, ia mendengar salah satu tenda para ‎pasukannya sedang qiyamullail dan sholat malam, dan tenda lainnya ‎sedang berdzikir kepada Allah, dan tenda lainnya sedang dipenuhi ‎lantunan ayat suci Al-Qur'an, sampai suatu saat ia melewati tenda ‎yang mana para pasukan di dalamnya sedang tertidur lelap, lalu ia ‎mengatakan kepada orang-orang yang bersamanya: melalui pasukan ‎ini kita akan kalah.‎

Yaa Allah, kembalikanlah kejayaan Islam...

Suatu Kisah Tentang BAN


Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka. "Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?" tanya si bocah dengan penasaran.
Sang ayah tersenyum. "Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita," katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. "Belajar dari ban?" Mata sang anak membelalak. "Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?"
Sang ayah tertawa. "Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya. Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat."
Si bocah mulai serius. "Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?"
"Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan. Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung. Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?" tanya sang ayah.
"Aku tahu, pasti ban ya, Yah?" jawab sang bocah antusias.
"Benar sekali. Yang ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat," ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.
"Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?"
"Wow, benar juga Yah," puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.
"Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Dia biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya."
"Maksud ayah apa?" tanya si bocah bingung.
"Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?" tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah. "Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?"
"Persis," jawab sang ayah. "Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu. Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor."
"Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku." 
Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas. "Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan."
Sang anak mengangguk-angguk.
Sang ayah menuntaskan penjelasannya, "Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong dan merasa hebat sendiri, dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita."
------------------------

sumber dari WA