Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Sunday, 16 January 2011

Ini Lho Namanya Cepluk"an


Ceplukan
Ini lho yang namanya Cepluk'an...

Nama Tanaman

Nama ilmiah: Physalis angulata L.
Nama lokal: Morel berry (Inggris), Ciplukan (Indonesia), Ceplukan (Jawa), Cecendet (Sunda),Yor-yoran (Madura),Lapinonat (Seram), Angket, Kepok-kepokan, Keceplokan (Bali), Dedes (Sasak), Leletokan (Minahasa).

Klasifikasi

Klasifikasi Physalis angulata L dalam sistematika tumbuhan menurut adalah:
Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledonnae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae
Marga: Physalis
Spesies: Physalis angulata L

Deskripsi Tanaman

Physalis angulata L adalah tumbuhan herba annual (tahunan) dengan tinggi 0,1-1 m. Batang pokoknya tidak jelas, percabangan menggarpu, bersegi tajam, berusuk, berongga, bagian yang hijau berambut pendek atau boleh dikatakan gundul. Daunnya tunggal, bertangkai, bagian bawah tersebar, di atas berpasangan, helaian berbentuk bulat telur-bulat memanjang-lanset dengan ujung runcing, ujung tidak sama (runcing-tumpul membulat-meruncing), bertepi rata atau bergelombang-bergigi, 5-15 x 2,5-10,5 cm. Bunga tunggal, di ujung atau ketiak daun, simetri banyak, tangkai bunga tegak dengan ujung yang mengangguk, langsing, lembayung, 8-23 mm, kemudian tumbuh sampai 3 cm. Kelopak berbentuk genta, 5 cuping runcing, berbagi, hijau dengan rusuk yang lembayung. Mahkota berbentuk lonceng lebar, tinggi 6-10 mm, kuning terang dengan noda-noda coklat atau kuning coklat, di bawah tiap noda terdapat kelompokan rambut-rambut pendek yang berbentuk V. Tangkai benang sarinya kuning pucat, kepala sari seluruhnya berwarna biru muda. Putik gundul, kepala putik berbentuk tombol, bakal buah 2 daun buah, banyak bakal biji. Buah ciplukan berbentuk telur, panjangnya sampai 14 mm, hijau sampai kuning jika masak, berurat lembayung, memiliki kelopak buah.

Habitat, Penyebaran, dan Budidaya

Ciplukan adalah tumbuhan asli Amerika yang kini telah tersebar secara luas di daerah tropis di dunia. Di Jawa tumbuh secara liar di kebun, tegalan, tepi jalan, kebun, semak, hutan ringan, dan tepi hutan. Ciplukan biasa tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 1-1550 m dpl. Kultur tunas dapat tumbuh baik pada media MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh BA dan IAA. Kadar dan perbandingan zat pengatur tumbuh untuk regenerasi kultur tunas agar diperoleh planttet adalah sebesar BA 3-4 ppm dan IAA 0,1 ppm.

Penggunaan di Masyarakat

Akar tumbuhan ciplukan pada umumnya digunakan sebagai obat cacing dan penurun demam. Daunnya digunakan untuk penyembuhan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah. Buah ciplukan sendiri sering dimakan untuk mengobati epilepsi, tidak dapat kencing, dan penyakit kuning.

Kandungan Kimia

Senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam ciplukan antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan fisalin. Komposisi detail pada beberapa bagian tanaman, antara lain: herba (Fisalin B, Fisalin D, Fisalin F, Withangulatin A), biji (12-25% protein, 15-40% minyak lemak dengan komponen utama asam palmitat dan asam stearat), akar (alkaloid), daun glikosida (flavonoid/luteolin), tunas (flavonoid dan saponin).

Perkembangan Penelitian

Sejak lama, ciplukan sebenarnya telah diteliti oleh para ahli dari berbagai negara. Penelitian tersebut biasanya terfokus pada aktivitas yang dimiliki oleh ciplukan. Dari penelitian yang telah dilakukan, baik secara invitro maupun invivo, didapatkan informasi bahwa ciplukan memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemi, antibakteri, antivirus, imunostimulan dan imunosupresan (imunomodulator), antiinflamasi, antioksidan, dan sitotoksik.

Baedowi [1998] telah melakukan penelitian terhadap ciplukan secara invivo pada mencit. Dari penelitiannya tersebut, didapatkan informasi bahwa ekstrak daun ciplukan dengan dosis 28,5 mL/kg BB dapat memengaruhi sel β insulin pankreas. Hal ini menunjukkan adanya aktivitas antihiperglikemi dari ciplukan.

Januario et al. (2000) telah menguji aktivitas antimikroba ekstrak murni herba ciplukan fraksi A1-29-12 yang terdiri dari fisalin B, D, dan F menunjukkan KHM (Kadar Hambat Minimum) dalam g.mL-1. Fisalin m menghambat mycobacterium tubercolosis H37Rv sebesar 32 B dan D murni menunjukkan nilai KHM dalam menghambat mycobacterium tubercolosis H37Rv masing-masing sebesar >g.mL-1 dan 32m128 g.mL-1. Diduga fisalin D berperan penting pada aktivitas antimikroba m yang ditunjukkan.

Beberapa Manfaat Ciplukan

Diabetes Mellitus. 
Bahan: tumbuhan ciplukan yang sudah berbuah dicabut beserta akar-akarnya dan dibersihkan. Cara membuat: dilayukan dan direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring. Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari.

Sakit paru-paru. 
Bahan: tumbuhan ciplukan lengkap (akar, batang, daun, bunga dan buahnya). Cara membuat: direbus dengan 3-5 gelas air sampai mendidih dan disaring. Cara menggunakan: diminum 3 kali sehari 1 gelas.

Ayan.
Bahan: 8-10 butir buah ciplukan yang sudah dimasak. Cara menggunakan: dimakan setiap hari secara rutin.

Borok. 
Bahan: 1 genggam daun ciplukan ditambah 2 sendok air kapur sirih. Cara membuat: ditumbuk sampai halus. Cara menggunakan: ditempelkan pada bagian yang sakit.


Sumber: http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com, http://www.iptek.net.id

Sunday, 18 July 2010

Manfaat Som Jawa (Talinum paniculatum (jacq.) Gaertn)



Tanaman apakah ini??
Pasti tidak asing buat kita orang jawa...di daerahku ini disebut gingseng (gingseng ala jawa maksudnya)...
Ternyata, ada khasiat yang terkandung dalam tanaman Som Jawa (Talinum paniculatum (jacq.) Gaertn) ini.


Deskripsi

Habitus : Herba, menahun, tinggi 70 – 80 Cm,
Batang : Bulat, bercabang di bagian bawah, pangkal mengeras, ungu
Daun : Tunggal, bulat telur, ujung membulat, pangkal tumpul, tepi rata, hijau.
Bunga: Majemuk, bentuk malai, diujung, bercabang, Mahkota lima, bulat telur panjang 3- + 4 mm, benangsari lima sampai lima belas, tangkai bercabang, merah keunguan.
Buah : Kotak, bulat , merah kecoklatan atau kuning.
Biji : Pipih, kecil, hitam.
Akar : Tunggang, coklat.

Sejarah Som Jawa

Som Jawa (Talinum paniculatum (Jacq) Gaertn) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika tropis yaitu Amerika Tenggara dan Selatan, yang tumbuh pada ketinggian 5 – 1.250 m diatas permukaan laut. Di Jawa ditanam sebagai tanaman tanaman obat, tanaman hias dan kadang – kadang merupakan tanaman liar. Som Jawa adalah terna tahunan yang tumbuh tegak, akarnya berdaging tebal, biasa dipergunakan sebagai pengganti Kolesom. 

Som Jawa merupakan salah satu tanaman obat yang akar dan daunnya mempunyai banyak khasiat sebagai obat tradional. Akarnya dapat digunakan sebagai tonikum, aphrodisiac/obat kuat, batuk-batuk, radang paru-paru, diare, haid tidak teratur, keputihan dan dapat memperbanyak ASI. Sedangkan daun segarnya dapat dipergunakan sebagai lalapan, sayur tumis, memperlancar ASI, untuk obat bisul dan pembengkakan (anti radang).

Pernyataan tentang marphologi akar tersebut sangat mirip dengan ginseng (Panax ginseng atau panax pseudo ginseng), yang baerasal dari China dan telah digunakan secara luas untuk obat lemah syahwat. Tanaman panax ginseng telah dikenal di zaman dinasti Cho Chi Klu, 2000 tahun sebelum masehi dan dikenal sebagai Panasea, yaitu tanaman obat untuk segala macam penyakit.

Sehubungan dengan berbagai manfaat tersebut, maka tanaman ini dapat dikatakan memiliki peluang untuk diluncurkan sebagai salah satu produk obat tradisional andalan ataupun produk minuman anggur kolesom. Selama ini simpliasia Som Jawa aman dikonsumsi dan khasiatnya tersebut terbukti benar lewat pengujian ilmiah.

Tanaman Som Jawa dapat dikembangkan di pekarangan atau didalam pot, mengingat tanaman ini mudah diperbanyak secara vegetatif dan sifat tanaman relatif cepat petumbuhannya. Pengembangan tanaman Som Jawa pada lahan pekarangan secara tumpangsari dengan bernagai jenis tanaman mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan petani, pemeliharaan kesehatan keluarga, industri obat tradisional dan keperluan lainnya. Sedangkan untuk pola budidaya tanaman pot ataupun pola TOGA di pekarangan juga masih diterapkan, yang sewaktu – waktu daunnya dapat dimanfaatkan untuk sayur atau obat luar.

Untuk memperoleh khasiat yang optimal dari bahan akarnya diperlukan tanaman minimal berumur 7 bulan sampai lebih dari satu tahun, sedangkan untuk kebutuhan daun segar dapat dipanen pada tanaman berumur 3 sampai 6 bulan.

Manfaat Som Jawa

Akar Som Jawa dapat dimanfatkan:
- Sebagai tonikum, yang dapat dimanfaatkan pada kondisi badan lemah, berkeringat dingin dan pusing.
- Aphrodisiak (obat kuat).
- Batuk dengan dahak dan darah, radang paru - paru.
- Diare, banyak kencing.
- Haid tidak teratur, keputihan.
- Air Susu Ibu (ASI) sedikit.

Daun Som Jawa dapat dimanfaatkan:
- Sebagai obat bisul dan memperlancar Air Susu Ibu (ASI)

Kandungan kimia

Kandungan kimia terutama saponin, flavonoid, tamin dan steroid (Kalium 41,44 %, Natrium 10,03 %, Kalsium 2,21 %, Magnesium 5,50 % dan Besi 0,32 %). Mungkin diantara kandungan kimia akar talinum paniculatum Gaertn mempunyai peranan seperti androgen/testosteron didalam tubuh sehingga mempengaruhi jumlah dan motilitas spermatozoa. Oleh karena itu dilakukan penelitian pengaruh infus akar Talinum paniculatum Gaertn terhadap jumlah dan motilitas spermatozoa.

Herbal Kitolod Si Obat Mata


Banyak artikel yang mengatakan tumbuhan yang satu ini memiliki kegunaan sebagai Obat Sakit Mata.

Kitolod merupakan tanaman yang sudah sejak lama digunakan untuk mengatasi gangguan mata. Hal ini dapat dilihat dari kandungan kimia di dalamnya, semisal senyawa alkaloid yakni lobelin, lobelamin dan isotomin. Daunnya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol. Getah tanaman mengandung racun, tetapi bagian tanaman lain memiliki efek antiradang (antiflamasi), antikanker (antineoplasmik), menghilangkan nyeri dan menghentikan pendarahan.


Besarnya khasiat tanaman ini sudah dibuktikan pula oleh Sri Mastuti, owner HerbAiniDrops, berawal dari anggota keluarganya yang pernah menderita gangguan mata yang sulit disembuhkan. Pada tahur 1998, Dra Hj NE Rosyitawati yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar negeri di Cakung, Jakarta Timur, merasakan matanya sering pedih dan gatal. Menurut dokter, hal ini disebabkan kurangnya, produksi air mata atau lebih dikenal dengan istilah mata kering. Selama dua tahun mencoba berbagai macam pengobatan medis, sampai akhirnya ia memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit mata di Bandung. Hasilnya memang membaik namun tidak sembuh secara total.

Karena tak kunjung sehat, ia pun membuat ramuan sendiri dengan menggunakan kitolod. Sebelumnya ia telah membaca beberapa buku dan mengetahui khasiat dari tanaman yang bernama ilmiah Isotoma longiflora atau Laurentia longiflora ini dan memberanikan diri untuk bereksperimen demi mendapatkan pengalaman empirik. Kurang lebih dua minggu, matanya terasa membaik. Keluhan mata merah, pedih bahkan buram mulai berkurang. Setelah check up, hasilnya cukup menakjubkan, ia harus mengganti kaca matanya dari minus (-) 21/2 dan plus (+) 21/2 menjadi minus (-) 1 dan plus (+) 1. 


Dipadu dengan madu hutan

Obat tetes mata yang sudah ada sejak tahun 2001 ini, sebelum disosialisasikan kepada masyarakat, telah diuji coba oleh orang-orang terdekat. Bahkan sudah beredar sampai ke negeri tetangga, yakni Malaysia dan Jepang. Tetapi masyarakat umum bisa merasakan khasiat obat tersebut baru empat tahun terakhir ini.

Selain menggunakan kitolod, obat tetes matanya dikombinasikan dengan madu hutan untuk memberikan manfaat lebih nyata. Di dalam madu terkandung vitamin yang dibutuhkan oleh mata, seperti vitamin A dan C, sedang kandungan garam mineralnya juga bermanfaat membersihkan dan menyehatkan mata.

“Obat ini sifatnya menghilangkan rasa nyeri dan menghentikan pendarahan. Tetapi jika terjadi pembekuan pada organ mata dan sekitarnya maka akan terdorong keluar,” ujar alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) di Yogyakarta ini. Wanita berusia 46 tahun ini menguraikan, fungsi saraf mata bisa terganggu karena penyakit atau terganggunya metabolisme tubuh akibat asam urat, kolesterol atau peredaran darah yang tidak lancar. Sedangkan gangguan plus minus biasanya karena kurangnya asupan gizi, khususnya vitamin A dan C, atau vitamin yang dikonsumsi tidak sampai ke mata karena adanya gangguan pada orgar tubuh.

Menurutnya secara umum, gangguar pada mata disebabkan karena terganggunya fungsi metabolisme, kurangnya asupan gizi, benturan keras dan kecelakaan atau karena penyakit kronis seperti diabetes, asam urat, darah tinggi, liver, kolesterol, dan lain-lain. Dan pengobatan pada mata sebaiknya dibarengi dengan pengobatan organ yang sakit.

Pengaruh faktor kejiwaan

Cara penggunaan HerbAiniDrops sama dengan obat tetes mata lainnya. Cukup teteskan satu kali pada mata kiri dan kanan. Biasanya akan terasa perih, merah dan sesekali akan mengeluarkan air mata itupun hanya sebentar. Setelah itu mata dikedip-kedipkan dan diurut perlahan dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Dimulai dari ujung mata atau sudut luar mata ke arah telinga atau pelipis, tujuannya untuk memperlancar peredaran darah di sekitar mata sehingga obat terserap rata. Untuk hasil maksimal, gunakan setiap hari, sehari dua kali yaitu pagi dan malam.

Berdasarkan pengalaman, gangguan mata seperti katarak paling lama pengobatannya, minimal membutuhkan dua botol. Untuk para lansia, tetes mata ini berguna untuk mengatasi air mata berlebihan, kelopak mata berat, mata tidak tahan panas, dan mata gatal. Dengan meneteskan dua kali seminggu sangat berguna untuk perawatan agar di hari tua tidak mudah mengalami gangguan mata seperti glukoma, tidak tahan panas, cairan berlebih, katarak dan lain-lain. Keluhan mata biasa seperti mata merah atau untuk perawatannya dengan beberapa kali tetes sudah terasa khasiatnya. “Obat ini tidak mengkhususkan pada gangguan mata tertentu, bisa digunakan untuk semua gangguan mata,” jelasnya.

Selain itu, disarankan untuk meningkatkan pola hidup sehat. Konsumsi cukup buah dan sayur (vitamin A dan C) serta makanan yang banyak mengandung vitamin E, misalnya bisa diperoleh dari susu kedelai. Kemudian banyak meminum air putih dan berolahraga dan istirahat yang seimbang. Hindari atau kurangi makanan dan minuman yang mengandung bahan sintetis seperti pengawet, penyedap dan pewarna. Hentikan atau kurangi kebiasaan merokok, dan minuman-minuman beralkohol.